Senin, 31 Oktober 2011

SUMBANGAN MURID


Situasi tu tampaknya takkan berubah.
                Semenjak hari pertama ia memasuki ruang kelas tujuhku, Willard P. Franklin gidup dalam dunianya sendiri, menutup diri dari teman-teman sekelasnya dan dari aku, gurunya. Semua usahaku untuk menjalin hubungan bersahabat dengannya sama sekali tidak mendapat tanggapan. Bahkan sapaan “Selamat pagi Willard,” hanya ditanggapi dengan sebuah gumam pendek. Teman-teman sekelasnya juga tidak mendapat tanggapannya. Willard murni seorang penyendiri, tak mempunyai keinginan atau kebutuhan untuk menurunkan penghalang kebisuan yang telah dipasangnya. Pakaiannya bersih tapi modelnya sama sekali bukan yan g terbaru. Ia bias menjadi seorang trendsetter karena pakaiannya mempunyai penampilan “pakaian bekas” sebelum gaya itu popular.
                 Tak lama setelah liburan Thanksgiving, kami mempadapat pengumuman mengenai pengumpulan sumbangan Natal tahunan.
                “Natal adalah musin member,”kataku kepada murid-muridku. “Di sekolah ini ada beberapa murid yang mungkin tidak mengalami musim liburan yang bahagia. Dengan berpartisipasi dalam pengunpulan sumbangan Natal kita, kalian akan membantu membelikan makanan, pakaian, dan mainan untuk orang-orang yan gmemerlukannya. Kalaian bias membawa sumbangan kalian besok.”
                Ketika aku mengumpulkan sumbangan kelasku keesokan harinya, ternyata semua murid lupa-semua kecuali Willard P. Franklin. Anak laki-laki itu memasukkan tangan dalam-dalam ke saku celananya saat ia berjalan ke mejaku. Dengan hati-hati ia menjatuhkan sekeping uang logam lima sen ke dapam tempat sumbangan.
                “Aku tidak memerlukan susu untuk makan siang,” sumamnya. Sesaat, hanya sesaat, ia tersenyum. Aku mengamatinya berbalik dan berjalan kembali ke mejanya.
                Malam itu, setelah jam sekolah, kubawa sumbangan kami yang hanya terdiri atas satu keeping uang logam lima sen ke kepala sekolah. Aku tak bias menahan diri untuk tidak memberitahukan idantitas si pemberi dan berbagi insiden itu denga kepala sekilah.
                “Mungkin aku salah, tapi menurutku Willard mungkin siap untuk menjadi bagian dari dunia di sekitarnya,” kataku.
                “Ya, menurutku kejadian ini member kita harapan,” ia mengangguk. “Dan perasaanku mengetakan bahwa kita mungkin akan mendapat manfaat dari kesediaannya untuk berbagi dunianya dengan kita. Aku baru saja menerima daftar keluarga miskin di sekolah kita yang paling memerlukan bantuan sunbangan Natal. Ini, lihatlah.”
                Ketika aku menunduk untuk membacanya aku melihat bahwa nama Willard P. Franklin dan keluatganya menempati paosisi pertama dalam daftar itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar